Prancis berhasil menundukkan Paraguay dengan skor tipis 1-0. Kemenangan ini membawa mereka melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2026 di Boston untuk menghadapi Maroko. Pertandingan tersebut menjadi ulangan laga semifinal tahun 2022. Masuknya Désiré Doué menjadi penyelamat bagi tim setelah ia berhasil memenangkan penalti melalui peninjauan VAR. Kylian Mbappé mengeksekusi penalti tersebut dengan tenang untuk mencetak gol ketujuhnya dalam kompetisi ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pertandingan berjalan sangat keras sesuai perkiraan akibat budaya bertahan Paraguay yang agresif. Kepemimpinan wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, memperburuk suasana karena kurangnya pengalaman di level tertinggi. Banyak pelanggaran keras Paraguay yang tidak dihukum. Sebaliknya, para pemain Prancis justru dihujani kartu. Turnamen Piala Dunia memang tidak pernah mudah dan tim penuh talenta ini harus melewati pertempuran fisik demi terus melangkah maju.
Ketidakmampuan mendasar wasit Ilgiz Tantashev menjadi sorotan utama sepanjang malam. Ia tampak menutup mata terhadap pelanggaran kasar pemain Paraguay. Perlu intervensi VAR untuk menunjukkan gambar pelanggaran terhadap Désiré Doué sebelum wasit akhirnya menunjuk titik putih. Mantan pemain Prancis, Bernard Lacombe, pernah menyindir seorang wasit dengan mengatakan bahwa mereka tidak butuh kacamata melainkan seekor anjing pemandu. Wasit asal Uzbekistan ini dipastikan meninggalkan catatan buruk dalam laga ini.
Menurut jalannya laga, Paraguay tidak pernah berniat untuk memainkan sepak bola operan pendek yang indah. Mereka turun ke lapangan untuk memprovokasi dan merusak ritme permainan Prancis. Strategi mereka adalah memancing reaksi emosional dari para pemain Les Bleus jauh dari posisi bola. Lini pertahanan Paraguay menumpuk pemain di depan kotak penalti seperti barisan kawat berduri. Mereka hanya sesekali melewati garis tengah lapangan saat mendapatkan momentum tendangan bebas.
Menghadapi tembok pertahanan agresif Paraguay membuat para pemain kreatif Prancis sempat frustrasi. Cuaca panas dan kawalan ketat mematikan kreativitas lini serang. Sepanjang babak pertama, kerja sama antara Kylian Mbappé, Michael Olise, dan Ousmane Dembélé tidak menghasilkan peluang yang membahayakan gawang lawan. Dukungan dari lini kedua juga sangat minim dan kurang akurat.
Prancis sempat mendapatkan beberapa momentum lewat tendangan Manu Koné yang membentur pemain lawan pada menit ke-22. Ousmane Dembélé juga melepaskan umpan silang yang disambut sundulan Kylian Mbappé pada menit ke-31. Setelah itu, Adrien Rabiot melepaskan tembakan yang masih terlalu tinggi disusul tendangan kaki kiri Jules Koundé yang tepat sasaran pada menit ke-38. Namun, semua upaya tersebut belum mampu memecah kebuntuan.
Berdasarkan statistik babak pertama, Paraguay berhasil membatasi jumlah pelanggaran mereka yang ditiup wasit menjadi hanya empat kali. Sementara itu, Prancis justru dihukum dengan enam pelanggaran. Hal ini bukan sebuah kebetulan melainkan sebuah strategi bertahan yang diterapkan secara terencana oleh tim Amerika Selatan tersebut.
Prancis mencoba meningkatkan intensitas serangan dan pergerakan pada babak kedua. Sebuah umpan jauh yang sangat akurat dari penjaga gawang Mike Maignan seharunya bisa diselesaikan dengan baik oleh Kylian Mbappé pada menit ke-51. Namun, sang penyerang gagal mengontrol bola dengan sempurna dalam posisi yang sangat menguntungkan tersebut.
Ketegangan mulai meningkat setelah tendangan keras Manu Koné pada menit ke-54 kembali gagal. Rasa frustrasi dan kekhawatiran melanda tim karena Paraguay bisa saja mencuri gol dari sebuah skema serangan balik yang tidak terduga. Prancis dituntut segera melakukan perubahan sebelum situasi di lapangan menjadi semakin tidak terkendali.
Kehadiran Désiré Doué dari bangku cadangan akhirnya mengubah segalanya. Dalam pertandingan yang sangat menguras fisik dan emosi ini, sebuah momen jenius dari pemain pengganti berhasil memecah kebuntuan. Kemenangan penuh perjuangan di Philadelphie pada tahun 2026 ini akan selalu dikenang layaknya kemenangan bersejarah di Lens pada Piala Dunia 1998 silam.